Makna 17 Agustus
Bila bukan karena ada orang yang mau mendedikasikan hidup mereka, dan terkadang nyawa mereka, Indonesia tentu tidak akan seperti yang sekarang ini. Kita bisa menikmati kemerdekaan, karena ada orang yang berjuang dan mati karenanya. Kita juga bisa menikmati kemajuan pengetahuan, ilmu, dan dan kebijaksanaan setelah kemerdekaan diperoleh juga karena ada orang yang mengorbankan diri untuk memajukannya.
Pada setiap hari terdapat sebuah kesempatan untuk meneruskan warisan itu, dan mengembangkannya. Bila anda mau menghidupi diri anda untuk melayani sesuatu yang lebih besar dari diri anda sendiri, maka anda akan dapat merasakan terpenuhinya kebutuhan yang tidak mungkin anda peroleh bila hanya memikirkan diri sendiri.
Tentu anda harus menjaga diri sendiri. Karena itu adalah tanggung jawab anda pribadi. Tetapi jangan lupakan negara dan bumi pertiwi, karena setiap tempat yang anda datangi, setiap orang yang anda temui, setiap waktu yang anda jalani, anda menemukan kesempatan untuk mempersembahkan sesuatu bagi apa yang lebih besar dari diri anda sendiri. Hanya lewat cara itu, anda bisa mengekspresikan diri sekaligus mengembangkan diri. Itulah bukti atas syukur anda atas kemerdekaan negeri ini.
HUT NEGERIKU
Oleh Nuril (9th)
Negeri ini ku kenal sepuluh tahun yang lalu
Saat umurku miniti angka tujuh
Indonesia Tanah airku
Merah Putih Benderaku
Garuda Pancasila lambang negaraku
Hari ini aku ikut memperingati ulang tahun negeriku ke-64
Sorak sorai dimana-mana
Gegap gempita suara “MERDEKA”
Tapi…
Sudahkah kita betul-betul merdeka?
Sudah bebaskah kita dari penjajah?
Ayo tanyakan para presiden kita
Pemimpin kita
Pejabat kita Guru kita
Orang tua kita
atau mungkin TUHAN KITA
Sahabat, memang benar apa yang disampaikan ade nuril. Apakah kita benar-benar merdeka? Kita masih terjajah. Hati kita merasa masih sakit oleh keadilan rekayasa. Sampai kapan? mari kita perjuangkan untuk mendapatkannya. Kalaupun kita mati, kita mati syahid, kalaupun gagal setidaknya kita telah berusaha. Ingat, tak ada satupun pergerakan yang tidak ada nilainya….
Solidaritas negeriku
Sahabat, sepertinya ada hal yang berangsur hilang di negeri ini. hal itu adalah solidaritas bangsa. Berikut tulisan sahabat yang membuktikan bahwa solidaritas bangsa ini masih tetap ada. Berkisah tentang Solidaritas Aceh. Sebagai pengingat saja bahwa bencana aceh menelan korban ratusan ribu jiwa.
Setetes Embun Solidaritas Bangsa
Diceritakan oleh Hanni
Berbagi cerita tentang solidaritas Indonesia…
Sisi lain dari kepedulian tsunami Aceh. Di sisi lain, ingin sekali berbagi kisah nyata yang mengharukan. Tadi pagi aku dan beberapa orangtua murid di sekolah anakku ke pasar, untuk beli kain kafan & selimut.
Kami bawa uang amanah teman-teman, yang kami pikir sudah banyak sekali lalu dengan yakin menanyakan harga kain kafan dan setelah dihitung-hitung, kami terduduk karena sadar bahwa ternyata uang yang kami bawa hanya cukup untuk kafan sekitar 20 jenazah. Rasanya sangat pedih, membayangkan perbandingan angka korban tewas dan jumlah kain yang bisa disumbangkan.
Padahal kami belum tanya harga selimut… ada rasa putus asa, juga keinginan untuk membatalkan saja membeli kafan dan selimut. Mungkin sebaiknya masukkan ke rekening-rekening bantuan saja uangnya. Di tengah diskusi & keraguan untuk membeli, si empunya kios menghampiri kami, bertanya tentang tujuan kami beli kain kafan dalam jumlah yang banyak. Kami ceritakan bahwa ada rekan yang akan berangkat ke Aceh dan kami ingin menitipkan bantuan. Lalu beliau bertanya, apa boleh menitipkan bantuan juga?
Dan begitu kami iyakan langsung beliau menyuruh anak buahnya kesana ke mari ternyata menyampaikan pada sesama pedagang kain tentang bantuan untuk Aceh itu. Dalam waktu setengah jam, pedagang-pedagang lain berdatangan membawa setumpuk kain kafan dan bahan flannel yang dipotong-potong untuk jadi selimut, ada yang untuk anak, ada juga untuk dewasa… jumlahnya ratusan dan semuanya disumbangkan. Mereka sampai membantu mengangkut ke mobil, dan ketika para kuli angkut ini mau kami berikan tip, mereka menolak. Bahkan sempat-sempatnya mereka bilang “titip salam bu untuk semua di Aceh.. semoga Allah segera mengangkat penderitaan mereka”.
Aku merinding.. sampai sekarang pun kalau ingat kekagetanku ketika sekonyong-konyong banyak pedagang mendatangi toko itu dengan setumpuk bahan, aku masih sesak dengan haru.. antara pilu mempertanyakan kenapa harus lewat musibah yang seberat ini ya Allah, kekompakan & toleransi terbangun…?? dan juga bahagia karena ternyata masih begitu banyak hati yang tulus di bumi bangsaku ini…Indonesia semoga saudara-saudara kita di Aceh bisa merasakan hangatnya hati kita di seluruh penjuru tanah air dan bahkan dunia, menggenggam mereka dalam do’a.. amin.
Sahabatku, jangan sampai terulang kembali. Solidaritas bangsa, solidaritas negara kita tercinta dikuatkan melalui musibah. Sahabatku, lihatlah disekitar sahabat, tentu ada orang yang butuh bantuan dan uluran sahabat. Segera bantu dia, sebelum kita diingatkan dengan musibah.
Kilas balik
Pada hari Jumat jam 10 pagi, tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pegangsaan timur jakarta. Telah dikumandangkan proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke seluruh Dunia. Proklamator dan penandatangan teks proklamasi itu adalah Soekarno Hatta yang mewakili bangsa Indonesia.
Dunia terhenyak atas kecepatan gerak bangsa Indonesia tersebut. Banyak yang mengambil gambar atas Proklamasi Kemerdekaan tersebut. Namun ada juga bangsa yang tidak rela bila bangsa Indonesia bebas dari cengkraman penjajahan, mereka adalah Belanda dan para sekutunya.
Oleh karena itu, walaupun kemerdekaan telah di proklamasikan, para pemimpin bangsa masih terus berjuang keras.
Belanda bersama sekutunya bermaksud merobek-robek kemerdekaan negara tercinta dengan berbagai alasan. Sehingga terjadilah apa yang disebut mereka class I dan class II. Sedangkan kita menyebutnya sebagai perang kemerdekaan I dan perang kemerdekaan II.
Adalah kebohongan besar, fitnah yang keji jika ada orang mengatakan bahwa kemerdekaan kita adalah hadiah dari Jepang maupun Belanda. Para pejuang dan pahlawan bangsa telah merebut kemerdekaan itu dengan cucuran keringat bercampur darah dan nyawa.
Sahabatku, kini masa perjuangan fisik telah usai, sekarang tinggal kita generasi penerus yang harus mengisi kemerdekaan ini dengan rasa tanggung jawab dengan keahlian menurut bidangnya masing-masing. Penuh tanggung jawab, karena para pahlawan kita tentunya tidak rela bila melihat bumi pertiwi yang telah dipertahankan mati-matian direbut oleh bangsa lain. Generasi muda sebagai generasi penerus dituntut berjiwa besar, suci bersih dan bertekad membaktikan diri bagi nusa dan bangsa.
Namun bapak-bapak, ibu-ibu generasi tua juga dituntut untuk lebih konsekuen antara ucapan dan perbuatannya, sehingga dapat memberi contoh yang baik bagi generasi penerus sekarang ini.
Sahabat, sudahkah kita menyumbangkan sesuatu yang berarti bagi negeri ini? Masihkah ada bendera merah putih itu berkibar di hati kita? mari tanyakan pada diri kita sendiri.
Read More..